Desa Adat Tegenan yang terletak di kaki Gunung Agung adalah merupakan kawasan perkebunan dan pertanian sebagai mata pencaharian utama penduduknya yang termodifikasi usaha peternakan khususnya sapi dan babi. sebagian besar bahkan 99 persen penduduknya berpenghasilan dari sektor tersebut,sehingga dari berbagai mata pencaharian tersebut muncul kelompok masyarakat tradisional seperti Subak Lipang yang mengelola sawah dengan sumber airnya di mata air grobogan dengan upacaranya Mapag Toya, Nyungsung,Ngebekang dan sebagainya dengan pura tempat penyungsungan di Pr Ulun Suwi,Manik harum dan neduh di Pr.Pucak Sari. Sedangkan Subak Abyan Pucak Manik mengelola areal perkebunan dengan berbagai ritual upacaranya seperti piodalan di Pura Pucak Sari tiap Buda Klion Sinta dan upacara Memungkah di Pura Pekandelan setiap tilem sasih Jiesta.
Memungkah adalah upacara permohonan kepada Dewa Sangkara dan Pertiwi pertanda dimulainya membajak di tegalan untuk bercocok tani paada sasih karo atau ketiga,seperti menanam padi gaga,jagung dan palawija lainnya dengan harapan agar tanaman berhasil dan tidak terserang hama,karena atas seijin Ibu Pertiwi selaku penguasa tanah dan Dewa Sangkara sebagai penguasa tumbuh-tumbuhan,juga dilaksanakan upacara setiap Tumpek Wariga oleh masing-masing anggota Subak Abyan Pucak Manik.
Ritual ini didahului dengan matur piuning dan nunas tirta di Pura Pucak Sari sebagai stana Dewa Sangkara ,Pura Puseh dan Pura Dalem,kemudian mereresik lanjut menggelar pecaruan eko sato,dan ngaturang bakti dandanan sayut 7 guling babi ke Ratu Gde Sakti Pekandelan,Betara Sangkara dan mamungkah ke ibu pertiwi dengan ngendagin bakti persembahan pejati selem,tulung urip,sanganan bangun urip dan pesegehan. Berikutnya usai persembahyangan warga nunas tirta dan nasi petaur,daging babi,tulung urip di bawa ketegalannya masing-masing untuk ditebarkan sebagai lelabaan sarwa merana di tegalan.
Upacara ini dulunya dilaksanakan keliling di tegalan di area pekandelan karena belum ada pelinggih, namun atas prakarsa dan koordinasai Mk.Manik Puspayoga dengan Km.Darma selaku pemilik tanah maka dibangunlah Pura Pekandelan pada Sukra Wage Uye 23 Juni 2017 ,maka sejak saat itulah upacara ini tiap tahun difokuskan di Pura Pekandelan.
Klian Subak Abyan Pucak Manik I Wayan Kariana,S.Pd,S.Sos yang juga pegawai kantor camat Rendang mengungkapkan rasa syukurnya karena upacara hari ini dapat berjalan lancar karena dukungan krama subak,untuk sarana upakara dikerjakan oleh dua orang saye dan dibantu oleh prejuru Subak Abyan dan Prejuru Banjar Adat. Sementara anggaran yang dibutuhkan 2 juta lebih bersumber dari dana BKK kabupaten Karangasem tahun 2023 ujar Mk.Made Lanus bendahara Subak Abyan Pucak Manik juga sebagai Sekretaris KTT.Tunas Mekar dan KSP Mekar Sari, didampingi sekretaris subak I Made Widya sekaligus owner Telaga Surya.
Kegiatan ngendag atau memungkah kali ini dihadiri Bendesa Desa Adat Tegenan I Ketut Wana Yasa dan sekaligus rapat rutin Pakis yang dipimpin ketuanya Ni Kadek Ririn Susanti,S.Pd dan ketua Paiketan Serati Ni Made Karmiasih (manixs)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar