Jumat, 14 Februari 2025

NGENTEG LINGGIH PROSES PENGUKUHAN SEBUAH PURA

Ngenteg linggih adalah upacara bagi umat Hindu untuk mengukuhkan kedudukan sebuah tempat suci,yang biasa dilakukan setelah selesai pembangunan tempat suci  seperti padmasana, sanggah pemerajan, atau pura. 

Kata "ngenteg" (bahasa Bali) berarti "mengukuhkan", sedangkan "linggih" berarti "kedudukan". 

Tujuan upacara ngenteg linggih adalah: 

Mensucikan dan menyakralkan tempat suci 

Memperkuat hubungan antara manusia dengan Dewa dan leluhur 

Memperkuat ikatan sosial dalam masyarakat 

Meningkatkan sradha dan bakti kepada Ida Hyang Widhi Waca

Menciptakan masyarakat yang santi, bahagia, dan sesuai tujuan agama Hindu 

Rangkaian upacara ngenteg linggih meliputi: Upacara bhuta yadnya, Mendem pedagingan, Mendak Ida Bhatara, Ngelinggihang, Ngaturang soda rayunan. 

Upacara ngenteg linggih juga sering disebut ngelinggihang. Ngelinggihang berarti dudukkan, persilakan para dewa yang dipuja telah disemayamkan pada bangunan suci yang baru selesai

Demikian halnya dengan upacara Ngenteg Linggih di Pura Pucak Sari di Banjar Adat Tegenan Kelod,Desa Adat Tegenan,Kecamatan Rendang yang diempon oleh Subak Abyan Pucak Manik, melaksanakan upacara ini bertepatan dengan pewatekan beliau yaitu Buda Klion Sinta yang lebih dikenal dengan Buda Klion Pagerwesi, pas Purnama Kawolu caka 1946 tanggal 12 Pebruari 2025.  

Menurut pengrajeg karya Mk.Manik Puspa Yoga,upacara ini sudak kami rencanakan sejak  ada , pawisik yang terjadi tahun 2002 sekitar bulan April,keberadaan pura waktu itu sangat minim,hanya ada 3 bebaturan kecil dan tidak mepenyengker,sangat sederhana,atas petunjuk yang kerauhan saya ditugaskan untuk merenovasi pura ini sebagai stana Ida Bhetara Sri Sedana/Ratu Ayu Manik Galih,Sangkara,Dewi Danu/Ulundanu,Tri Purusa dan Ganapati dan pewatekannya pada Buda Klion Pagerwesi. Sehingga ketika saya merebut pelukatan Toya Ketipat dari orang Menanga,saya berjanji kalau dapat dituntaskan maka hasilnya akan saya pakai melaksanakan titah beliau merenovasi Pura Pucaksari. Betul saya berhasil merebut itu dan saya ajak krama Banjar Tegenan Kelod untuk membangun Pura Toya Ketipat sebuah padmasana dan baturan pelukatan,kami mlaspas pas hujan deras,tidak ada orang atau penglingsir yang peduli,saya jengah ,tidak ada modal untuk membangun dan beli banten kami modal sendiri. Akhirnya setelah jalan,banyak orang mengklaim dan mencurigai saya NILEP uang sesari itu dan beberapa kali saba sakih bisa terkumpul 7,7 juta tahun 2003 kami serahkan kepada Mk.Suradana untuk mengelolanya. Dengan bermodal 7,7 juta dan bantuan dari bpk camat 3 jt waktu itu camatnya Drs.I Wayan Mustika,kami bangun penyengker ,candi apit lawang dan pelinggih padmasana 3 gedong,1 baturan dan 1 paruman. Saya ajak krama yang peduli dan dimotori oleh Kelompok Tani Tunas Mekar hingga diplaspas dan mengadakan piodalan alit pertama pada hari Buda Klion Sinta nemonin Purnama Sada tanggal 2 Juni 2004.
Selanjutnya untuk kelangsungan pura ini saya berfikir bagaimana caranya mencari dana,maka terpikir membentuk subak abyan pada tahun 2011,mengajukan ke Dinas Kebudayaan dan astungkara diterima dan mulai 2013 mendapat dana hibah berupa BKK setiap tahun,sehingga mulai tahun itu pura ini di'empon'  oleh Subak Abyan yang anggotanya krama banjar adat jangkepan yang masih aktif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar